Isi Unggahan Menyayat Hati Bocah Sebelum Tewas Bunuh Diri di Demak

Posted on

Demak

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Bocah perempuan asal Demak mengakhiri hidupnya sendiri di dalam rumah. Ia ditemukan tewas, setelah sempat mengunggah tangkapan layar obrolan Whatsapp bernada makian dari ibunya.

Hal tersebut dikatakan oleh Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono. Menurutnya, tangkapan layar itu diunggah beberapa hari sebelum kejadian.

“Screenshot itu adalah chat dari ibunya ke korban dan diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa gantung diri,” kata Anggah melalui sambungan telepon pada , Jumat (13/2/2026).

Isi tangkapan layar dari ponsel korban tersebut diunggah oleh akun Instagram @infodemakraya. Dalam tangkapan layar itu tertulis beberapa kata kasar.

Korban juga sempat menulis caption saat mengunggah foto tersebut. Korban mengatakan, “Di balik tawa gua di sisi lain aku juga cape”.

Anggah menyampaikan peristiwa gantung diri ini terjadi pada Kamis (12/1) sore. Saat itu ibu korban pulang ke rumah bersama adik korban.

“Dari CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah. Kemudian masuk ke rumah pukul 18.01 WIB. Posisi si ibunya ini masuk sambil menggendong anaknya atau adik korban,” jelas Anggah.

Anggah menyebut ibu korban kemudian masuk rumah dan melihat anaknya sudah gantung diri. Tak berselang lama, ibu korban lalu keluar dan berteriak.

“Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak. Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya gantung diri,” ujar Anggah.

Menurut Anggah, tetangganya yang mendengar teriakan itu lalu mendatangi korban. Jenazah korban kemudian dibawa ke rumah sakit oleh ibu dan tetangganya.

“Dibawa ke rumah Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil ibunya yang dikemudikan oleh tetangganya. Ibu korban mengikutinya dengan menggunakan sepeda motor,” tutur Anggah.

Berdasarkan keterangan dari dokter forensik, Anggah menyampaikan bahwa terdapat luka yang mengindikasikan korban gantung diri. Ia juga menjelaskan beberapa ciri yang ditemukan oleh dokter.

“Dari dokter forensik menyampaikan bahwa ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher. Didapatkan tanda mati lemas. Waktu kematian 2-6 jam sebelum pemeriksaan visum dilakukan,” beber Anggah.

Anggah mengatakan pihaknya mendapat laporan kejadian ini sekitar pukul 21.30 WIB. Polisi kemudian berangkat ke rumah korban untuk melakukan pendalaman. Berdasarkan keterangan dari dokter dan bukti-bukti yang didapatkan di lapangan, Anggah membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh sang ibu.

“Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah. Dengan rentang waktu sekitar 1,5 – 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan,” kata Anggah.

“Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah,” tambahnya.

Anggah membenarkan bahwa sang ibu sebelumnya sempat beberapa kali marah dan menyampaikan kata-kata kasar kepada korban.

“Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar. Tetapi penyebab korban gantung diri tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman,” ujar Anggah.

“Namun dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya. Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya,” tutupnya.