Tasikmalaya –
Kabut tipis masih menyelimuti Kampung Nagasari, Desa Raksasari, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Namun, Wiwin bersama sekelompok ibu-ibu rumah tangga di sana sudah memecah kesunyian pagi. Mereka bergegas menuju kebun, mencabut singkong-singkong terbaik demi memenuhi pesanan konsumen yang kian membanjir.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Singkong-singkong itulah yang menjadi nyawa bagi pembuatan kicimpring rempah, kudapan kering menyerupai kerupuk tradisional khas Sunda yang kini tengah naik daun. Bagi para perajin di pelosok Tasikmalaya ini, hadirnya bulan suci Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan keran berkah yang mengalir deras.
“Alhamdulilah kalau Ramadan teh, pemesanan kicimpring naek. Dari pasar maupun dari perorangan. Saya jadi sibuk lagi sama tetangga kita bikin kicimpring,”kata Wiwin, perajin kicimpring pada
Lonjakan permintaan ini memang tak main-main. Jika pada hari biasa produksi mereka cenderung landai, kini pesanan meroket hingga menyentuh angka 200 bungkus per hari. Padahal, biasanya mereka hanya mampu melepas sekitar 50 bungkus ke pasaran.
“Bisa naek 200 kali lipat. Kalau biasamah 30 sampai 50 paling banyak. Sekarangmah 200 an paling sedikit,”kata Wiwin.
Di tangan para ibu rumah tangga yang mayoritas sudah memasuki usia lansia ini, umbi singkong disulap menjadi hidangan “kriuk” yang menggugah selera. Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional di dapur-dapur rumah warga, tanpa sentuhan mesin modern yang rumit.
Awalnya, singkong dibersihkan dengan air mengalir hingga putih bersih, lalu diparut halus. Rahasia kelezatannya terletak pada racikan bumbu rempah yang dicampurkan ke dalam adonan, menciptakan harmoni rasa gurih yang autentik.
Adonan parutan singkong tersebut kemudian dicetak bulat di atas baskom, lalu masuk ke tahap penguapan (steaming). Setelah matang, kicimpring basah ditata rapi di atas ayakan-alat penjemur tradisional dari bambu-untuk dijemur di bawah terik matahari. Begitu kering sempurna, barulah kicimpring dikemas dalam plastik bening.
“Proses pembutanya gampang. Singkong diparut, dicetak dipanaskan dan di jemur sudah cetakan. Tidak lupa diberi bumbu rempah,” kata Wiwin, perajin kicimpring.
Kicimpring kini menjadi primadona camilan tradisional pengganti kerupuk. Kehadirannya sangat fleksibel, cocok menemani sepiring nasi hangat maupun dinikmati sebagai kudapan santai. Tersedia dalam dua varian, yakni original dan rempah, produk ini telah menembus pasar tradisional hingga rak-rak supermarket dengan harga terjangkau, yakni Rp12 ribu per bungkus.
“Satu bungkusnya dijual 12 ribu rupiah. Kalau banyak pesananya,” kata Wiwin.
Bagi Wiwin dan rekan-rekannya, setiap keping kicimpring yang terjual adalah harapan baru. Mereka bermimpi bisa terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi demi mengangkat ekonomi keluarga di kampung halaman.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dengan adanya kenaikan permintaan ini. Kami akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kicimpring. Ya bisa beli baju lebaran kan,” seloroh Wiwin.
Saking populernya, tak jarang para pembeli rela menempuh perjalanan jauh dan datang langsung ke rumah perajin. Ada yang membeli untuk stok konsumsi pribadi, tak sedikit pula yang datang untuk kulakan demi dijual kembali.
“Saya datang dari Garut mau beli kicimpring buat jualan lagi. Kalau disentranya kan murah beds dipasar,” ucap Pembeli, Indra.
Kicimpring buah tangan ibu-ibu Nagasari ini memang punya tempat tersendiri di hati pencinta kuliner. Perpaduan rasa singkong yang jujur dengan bumbu rempah yang berani terasa begitu nendang di lidah, apalagi jika ditambah aksen cabai merah yang menambah sensasi pedas.
“Saya sering makan enak juga. Alami kan prosesnya. Tanpa bahan pengawet apapun. Sehat,” pungkas Indra.
“
