Era senjata laser taktis resmi dimulai. Pada 28 Desember 2025, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa Iron Beam telah terintegrasi sepenuhnya dan siap beroperasi dalam sistem pertahanan nasional Israel. Pengumuman ini menandai tonggak sejarah penting karena untuk pertama kalinya senjata laser energi tinggi diadopsi sebagai bagian operasional penuh dari kekuatan militer sebuah negara.
Iron Beam kini menjadi lapisan pertahanan udara terdalam Israel dengan peran utama mencegat ancaman jarak dekat seperti roket, mortir, dan drone. Sistem ini melengkapi pertahanan berlapis Israel yang sebelumnya mengandalkan sistem berbasis rudal, sekaligus membuka babak baru dalam peperangan modern.
Gagasan senjata laser bukan merupakan hal baru. Sejak penemuan laser oleh Theodore Maiman pada 1960 di Hughes Research Laboratories, potensi militer teknologi ini segera menarik perhatian publik. Media saat itu bahkan menyebutnya sebagai “death ray” ala fiksi ilmiah. Representasi senjata laser kemudian semakin populer melalui film-film seperti Goldfinger, yang memperkuat citra laser sebagai senjata masa depan.
Namun, selama puluhan tahun, laser sekadar menjadi “solusi yang mencari masalah”. Keterbatasan daya, kesulitan penargetan, dan gangguan atmosfer membuat laser belum praktis digunakan sebagai senjata tempur. Pada era 1960-an hingga 1980-an, penggunaan militer laser sebagian besar terbatas pada sistem penunjuk sasaran dan pengukur jarak.
Perubahan besar terjadi dalam dua dekade terakhir. Munculnya laser solid-state berbasis serat optik memungkinkan penciptaan sinar berdaya tinggi dalam ukuran yang lebih ringkas dan efisien. Teknologi ini menggunakan serat kaca yang diperkaya (doping) elemen seperti ytterbium serta erbium, dan memungkinkan penggabungan beberapa laser menjadi satu sinar yang jauh lebih kuat.
Selain itu, sistem penargetan modern kini mampu mengunci sasaran secara cepat dan presisi. Laser referensi digunakan untuk menganalisis kondisi atmosfer di antara senjata dan target, sehingga sinar utama dapat dikoreksi secara waktu nyata (real-time) untuk mengatasi distorsi udara. Kombinasi inilah yang akhirnya membuat senjata laser taktis menjadi sistem yang sepenuhnya operasional.
Artikel ini sudah tayang di infoInet, baca selengkapnya .
Dari Fiksi Ilmiah ke Realitas Militer
Gagasan senjata laser bukan merupakan hal baru. Sejak penemuan laser oleh Theodore Maiman pada 1960 di Hughes Research Laboratories, potensi militer teknologi ini segera menarik perhatian publik. Media saat itu bahkan menyebutnya sebagai “death ray” ala fiksi ilmiah. Representasi senjata laser kemudian semakin populer melalui film-film seperti Goldfinger, yang memperkuat citra laser sebagai senjata masa depan.
Namun, selama puluhan tahun, laser sekadar menjadi “solusi yang mencari masalah”. Keterbatasan daya, kesulitan penargetan, dan gangguan atmosfer membuat laser belum praktis digunakan sebagai senjata tempur. Pada era 1960-an hingga 1980-an, penggunaan militer laser sebagian besar terbatas pada sistem penunjuk sasaran dan pengukur jarak.
Perubahan besar terjadi dalam dua dekade terakhir. Munculnya laser solid-state berbasis serat optik memungkinkan penciptaan sinar berdaya tinggi dalam ukuran yang lebih ringkas dan efisien. Teknologi ini menggunakan serat kaca yang diperkaya (doping) elemen seperti ytterbium serta erbium, dan memungkinkan penggabungan beberapa laser menjadi satu sinar yang jauh lebih kuat.
Selain itu, sistem penargetan modern kini mampu mengunci sasaran secara cepat dan presisi. Laser referensi digunakan untuk menganalisis kondisi atmosfer di antara senjata dan target, sehingga sinar utama dapat dikoreksi secara waktu nyata (real-time) untuk mengatasi distorsi udara. Kombinasi inilah yang akhirnya membuat senjata laser taktis menjadi sistem yang sepenuhnya operasional.
Artikel ini sudah tayang di infoInet, baca selengkapnya .
