Jakarta –
Deretan busana muslim wanita tampak berderet rapi di sebuah gerai di lantai dasar Trans Studio Mall (TSM) Bandung. Di area depannya, berdiri sebuah patung manekin dengan abaya hitam bordir dan rok tutu bernuansa nude. Di sisi lainnya, terdapat long dress penuh payet dengan warna-warni yang mewah.
Hadir pula aneka tunik berwarna pastel dan aksen lace yang cantik. Atasan tersebut dipajang sejajar dengan pakaian Muslimah lainnya dengan nuansa monokrom yang lebih edgy dan maskulin. Semua terhimpun dalam satu butik anyar bertitel “The Edit”.
Butik ini menguratori 22 brand modest fashion pilihan dari Indonesia serta satu brand asal Malaysia untuk hadir dalam satu atap. Setiap brand yang masuk melewati proses seleksi ketat yang meliputi aspek kualitas bahan, detail pengerjaan, hingga desain.
“The Edit ini merupakan titik temu antara brand pilihan dan desainer ternama, juga customer yang mengapresiasi kualitas serta keunikan karya anak bangsa,” ujar salah satu penggagas The Edit, Alex saat ditemui selepas peresmiannya, Selasa (3/3/2024).
Uniknya, tidak ada style khusus yang menjadi benang merah di antara produk-produk yang ditawarkan. Hal ini memungkinkan pelanggan menemukan berbagai pakaian untuk bermacam kebutuhan di satu tempat. Mulai dari pakaian kerja, kasual, hingga acara formal seperti pesta, wisuda, atau tunangan.
Nama-nama seperti Malik Moestaram, Pitaukur, Lacelle, Rahma Ika, Purukambera, Nyawa, Azameera, dan Naema Hijab menjadi pengisi rak-rak etalase The Edit. Pengunjung bisa melihat langsung perbedaan antara gaun penuh bordir rumit dan koleksi daily wear bersiluet longgar dalam satu garis pandang.
Mumtazah Bavadal, penggagas The Edit mengatakan konsep tersebut memang menjadi salah satu hal yang ditonjolkan. Keberagaman pilihan produknya menjadi nilai tambah.
“Kita kurasi dari bahan dan kualitas terbaik, tapi modelnya semua ada. Mulai dari daily, formal, untuk meeting, buat pesta juga ada. Jadi ketika customer datang ke sini, semua tersedia,” terangnya.
Rentang harga yang ditawarkan pun tak kalah beragam. Pengunjung bisa menemukan pakaian muslimah mulai dari harga Rp300 ribu hingga Rp6 juta. Target pasar The Edit adalah muslimah modern dan fashion enthusiast berusia 20 tahun ke atas, dengan segmentasi middle up hingga premium.
“The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, tapi menghadirkan karya, karakter, dan cerita dari para desainer Indonesia,” sambung Alex.
Berawal dari Pameran
Ide mendirikan butik permanen ini bermula dari pameran busana di area main atrium TSM Bandung. Mumtazah dan Alex yang juga pemilik Event Organizer (EO) Rumah Egypt, merupakan salah satu ‘pemain’ besar di balik aneka pameran dan bazar fesyen di berbagai mal di Indonesia.
Kala itu, salah satu pameran mereka yang digelar di TSM Bandung diserbu pengunjung. Dalam sepekan penyelenggaraannya, brand-brand fesyen Muslimah yang bergabung mencatatkan lonjakan penjualan signifikan.
Respons tersebut memunculkan permintaan dari para pemilik merek agar kehadiran mereka tidak berhenti pada format pameran. Alhasil, tercetuslah konsep butik yang dapat menaungi berbagai brand fesyen Muslimah secara permanen di dalam mal.
“Padahal cuma enam hari, tapi semua brand itu benar-benar puas. Jadi mereka sendiri yang minta ke kita, kira-kira bisa enggak kalau kita tetap ada di sini, bukan cuman saat pameran saja. Makanya kita kepikiran, gimana kalau kita membangun toko yang isinya creative clothing designer, brand-brand yang sudah kita kurasi,” jelas Mumtazah.
Awalnya, ia mengatakan, konsep ini dinamai Rumah Hijab. Namun nama itu dianggap terlalu spesifik dan tidak cukup mewakili spektrum koleksi yang lebih luas. The Edit dipilih karena mencerminkan proses penyuntingan dan seleksi, sesuai dengan karakter ruang yang dihadirkan.
“Bikinnya pun dadakan banget, akhirnya dipilih nama The Edit agar masuk ke semua segmen,” terangnya.
Ia mengatakan, mal TSM Bandung sudah cukup lama melekat di benak masyarakat sebagai pusat perbelanjaan yang rutin menggelar bazar dan pameran fesyen muslimah. Sehingga, kehadiran butik dengan puluhan merek Muslimah diharapkan dapat memperluas pilihan masyarakat yang akan berbelanja.
“TSM Bandung itu sudah terkenal dengan fashion Muslimnya di kalangan pengunjung. Jadi kami sediakan wadah juga untuk pengunjung sebagai one stop shopping mereka,” ungkap Mumtazah.
Merek-merek yang hadir di The Edit tidak dirotasi secara berkala. Selama standar kurasi terpenuhi dan penjualan berjalan baik, mereka dapat terus bertahan. Bahkan, hingga saat ini butik tersebut masih membuka kemungkinan penambahan brand yang sesuai.
“Brand tidak di-rolling, tapi kalau mau ditambah bisa. Artinya selama dia bertahan, eksis dan penjualannya bagus ya bisa terus. Selama kuratifnya terpenuhi sesuai dengan apa yang kita harapkan baik dari kualitas bahan dan pakaiannya,” tutur Alex.
Pendekatan tersebut memberi ruang bagi pemilik merek untuk membangun loyalitas. Mereka tidak hadir sebagai pop-up sementara, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang tumbuh bersama.
Dari sisi tren, dinamika tetap diperhatikan. Amirah Saleh, salah satu inisiator The Edit menilai kecenderungan minat pasar sering mengikuti apa yang sedang ramai diproduksi oleh kalangan desainer.
“Konsumen biasanya ngikutin apa yang disediakan brand. Misalnya lagi ramai warna pastel, brand menyediakan dan konsumen akhirnya beli itu. Tapi tergantung selera dan kenyamanan konsumen juga,” ujarnya.
Ia menambahkan, ada pula brand yang tetap mempertahankan identitasnya tanpa terpengaruh tren. Karakter desain yang kuat menjadi pembeda. The Edit hadir memberi ruang bagi kedua pendekatan tersebut, selama kualitas dan konsistensi terjaga.
