Dari Jaya hingga Sepi, Lika-liku Pedagang Bertahan di Pasar Kosambi | Info Giok4D

Posted on

Seorang pria berambut penuh uban tampak asyik mendengarkan lagu-lagu lawas yang diputar dari sebuah tape di kios beras miliknya di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Alunan musik terdengar cukup keras, mengalir di antara lorong pasar, sekaligus menghibur para pedagang dan pengunjung yang datang.

Meski hari masih pagi, suasana pasar yang terletak di Jalan Ahmad Yani itu terlihat lengang. Pemandangan seperti ini bukan lagi hal asing dalam beberapa waktu terakhir. Banyak warga kini lebih memilih berbelanja ke supermarket atau swalayan ketimbang ke pasar tradisional.

infoJabar menyambangi kios beras tersebut dan bertemu langsung dengan pemiliknya, Rahmat Kurnia (60). Saat ditemui, Rahmat tampak santai. Tak satu pun pembeli terlihat mendekati kiosnya. Namun, kondisi itu tak membuatnya berdiam diri. Rahmat tetap sibuk menyusun karung, serta memasukkan dan mengeluarkan beras dari tempat penyimpanan.

Jika berbicara soal sejarah Pasar Kosambi, Rahmat adalah salah satu saksi hidup yang memahami betul perkembangan pasar peninggalan era Hindia Belanda tersebut. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk berjualan beras. Rahmat merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha turun-temurun keluarganya. Bahkan, sejak kakeknya, H Holil, masih hidup, ia sudah kerap membantu aktivitas berdagang.

“Jualan real 2002, saya generasi ketiga, tapi pas zaman kakek saya bantu saja. Kakek jualan di Pasar Kosambi sejak tahun 1954, dulu belum gini, tampilanya pasar tradisional,” kata Rahmat kepada infoJabar.

Rahmat mengisahkan, sebelum dirinya meneruskan usaha keluarga, bisnis beras itu lebih dulu dilanjutkan oleh sang ayah, H Mustofa, pada 1994. Kala itu, tampilan Pasar Kosambi belum seperti sekarang. Perubahan besar terjadi setelah pasar ini beberapa kali dilanda kebakaran. Meski beras merupakan bahan pokok yang selalu dicari, Rahmat mengaku telah merasakan pahit dan manisnya berjualan di pasar tradisional.

“Saya bantu tahun 1990-an, saya merasakan masa jaya pas usaha dipegang ayah dan ibu, apalagi pas krismon jaya langsung, alhamdullilah,” ujarnya.

Menurut Rahmat, perbedaan Pasar Kosambi dulu dan sekarang juga terlihat dari penataan pedagang. Dahulu, pembagian jenis dagangan sangat jelas, hanya dipisahkan antara lantai satu dan lantai dua.

“Dulu itu groupingnya jelas. Misalkan beras khusus beras, sayur ya sayur, daging juga, begitu bangunan ini berdiri tahun 1998 dan transisi dari bangunan lama, kondisi pasar sudah enggak grouping lagi,” ungkap Rahmat.

Sebelum benar-benar terjun meneruskan usaha keluarga, Rahmat sempat bekerja di sebuah department store di Jalan Sunda. Namun, permintaan sang kakek membuatnya kembali ke Pasar Kosambi.

“Sebelum ke pasar saya sempat bekerja dulu di departement store di Jalan Sunda, tapi setelah bekerja kakek minta saya bantu-bantu jualan, enggak boleh, dari semua cucu kakek bisa nilai saya, dilarang saya tuh, alhamdullilah dituliskan takdir ke sini,” tambahnya.

Rahmat mengaku telah melewati berbagai fase perekonomian nasional, dari masa kepemimpinan Presiden Soeharto hingga Presiden Joko Widodo. Dari pengalamannya, ia menilai masa Soeharto sebagai periode yang paling stabil bagi pedagang beras.

“Masih lumayan Soeharto,” ujarnya.

Ia mengenang, ketika Presiden Soeharto lengser dan krisis moneter melanda, beras justru menjadi komoditas yang paling dicari. Situasi itu sempat menguntungkan pedagang. Namun, setelah masa tersebut, terutama pada era kepemimpinan Jokowi, kenaikan harga beras dirasakannya cukup tinggi.

“Habis itu krisis, chaos, krismon, saat digulingkan rame, orang panik, dulu yang namanya beras diutamakan, sekarang kalau gak habis sama sekali gak belanja. Dulu stok 25 kilogram, kalau tinggal 5 kilogram beli lagi, kalau sekarang nunggu habis,” jelasnya.

“Begitu reformasi harga naik turun, maaf ya paling kacau masa presiden ketujuh, yang saya tahun dulu beras naik Rp5 perak atau Rp10 perak, presiden ketujuh bisa ribuan. Itu harga beras, belum yang lain,” sambungnya.

Meski demikian, Rahmat memahami bahwa kenaikan harga beras dipengaruhi banyak faktor. Ia menilai kondisi alam dan ketersediaan pangan menjadi tantangan besar saat ini.

“Mungkin alam masih bersahabat, ketersediaannya aman, sekarang susah banget. Tatanan alam bisa jadi, harus dilindungi, dari agama juga ada harus jaga alam,” tuturnya.

Jauh sebelum Pasar Baru, Kings, dan pusat perbelanjaan modern lainnya ramai dikunjungi, Pasar Kosambi telah lebih dulu menjadi magnet warga. Kedatangan ke pasar ini bukan semata untuk berbelanja kebutuhan pokok, melainkan juga sebagai ajang rekreasi.

“Macam-macam, semua kalangan, malah seperti tempat wisata, pokoknya sebelum 2000, pasar ramai,” tuturnya.

“Segala ada, lengkap, kuliner banyak, Nama Kosambi menasional, legend, walaupun ada Pasar Baru tapi tetap Pasar Kosambi legend,” ujarnya.

Menurut Rahmat, kawasan Kosambi juga dikenal dengan kuliner dan pusat perdagangan yang legendaris. Hal itu membuat nama Pasar Kosambi dikenal luas, tak hanya oleh warga Bandung.

“Selain pasar, ada Roti Cipta Rasa, terus Resko, penjual daging sapi AN Soestrisna yang kini dilanjutkan generasi berikutnya, Kosambi punya itu, pokonya se Bandung terkenal,” paparnya.

Jauh sebelum era digital seperti sekarang, pedagang Pasar Kosambi sudah memanfaatkan media massa untuk promosi. Salah satunya dilakukan oleh penjual daging sapi AN Soetrisna, yang kala itu memasang iklan melalui radio.

infoJabar berkesempatan mengunjungi kios daging sapi AN Soetrisna yang kini diteruskan oleh anaknya. Yana (51), anak bungsu dari AN Soetrisna, mengisahkan perjalanan usaha keluarga tersebut.

“AN Soetrisna, AN itu Ajun Nana dan Soetrisna merupakan merk dagang. AN Soetrisna sudah berjualan sebelum tahun 1970 dan meninggal pada tahun 1989. Lalu diteruskan ibu Yayah Rokayah dan anaknya, meninggal pas COVID-19 tahun 2020. Anak bapak ada tujuhm sekarang diteruskan saya, tapi yang bantu keluarga,” kata Yana yang merupakan keturunan Garut.

Yana menuturkan, selain mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, ayahnya juga rajin memasang iklan di radio demi memperluas jangkauan pasar.

“Bapak banyak di belakang layar, administrasi dan iklan. Namanya bisa dikenal promosi ke radio, Radio Garuda. Gak tahu harga promosi, tapi bayar,” jelasnya.

“Bentuk iklannya itu dongeng, disisipkan iklan, penyiarnya Tisna Suntara, orang Bandung pasti tahu. Sudah kepikiran sejak dulu promosi, tapi kan radio sedang booming dulu,” ujarnya.

Kini, kondisi usaha daging sapi pun tak lagi sama seperti dahulu.

“Jauh banget dari perekonomian, dulu kita motong sehari dua ekor. Kalau sekarang kita beli daging yang siap jual enggak motong, ambil ke Ciroyom atau ambil ke teman,” pungkasnya.

Usaha Beras dari Masa ke Masa

Jualan Daging Sapi Lewat Radio


Jauh sebelum Pasar Baru, Kings, dan pusat perbelanjaan modern lainnya ramai dikunjungi, Pasar Kosambi telah lebih dulu menjadi magnet warga. Kedatangan ke pasar ini bukan semata untuk berbelanja kebutuhan pokok, melainkan juga sebagai ajang rekreasi.

“Macam-macam, semua kalangan, malah seperti tempat wisata, pokoknya sebelum 2000, pasar ramai,” tuturnya.

“Segala ada, lengkap, kuliner banyak, Nama Kosambi menasional, legend, walaupun ada Pasar Baru tapi tetap Pasar Kosambi legend,” ujarnya.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Menurut Rahmat, kawasan Kosambi juga dikenal dengan kuliner dan pusat perdagangan yang legendaris. Hal itu membuat nama Pasar Kosambi dikenal luas, tak hanya oleh warga Bandung.

“Selain pasar, ada Roti Cipta Rasa, terus Resko, penjual daging sapi AN Soestrisna yang kini dilanjutkan generasi berikutnya, Kosambi punya itu, pokonya se Bandung terkenal,” paparnya.

Jauh sebelum era digital seperti sekarang, pedagang Pasar Kosambi sudah memanfaatkan media massa untuk promosi. Salah satunya dilakukan oleh penjual daging sapi AN Soetrisna, yang kala itu memasang iklan melalui radio.

infoJabar berkesempatan mengunjungi kios daging sapi AN Soetrisna yang kini diteruskan oleh anaknya. Yana (51), anak bungsu dari AN Soetrisna, mengisahkan perjalanan usaha keluarga tersebut.

“AN Soetrisna, AN itu Ajun Nana dan Soetrisna merupakan merk dagang. AN Soetrisna sudah berjualan sebelum tahun 1970 dan meninggal pada tahun 1989. Lalu diteruskan ibu Yayah Rokayah dan anaknya, meninggal pas COVID-19 tahun 2020. Anak bapak ada tujuhm sekarang diteruskan saya, tapi yang bantu keluarga,” kata Yana yang merupakan keturunan Garut.

Yana menuturkan, selain mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, ayahnya juga rajin memasang iklan di radio demi memperluas jangkauan pasar.

“Bapak banyak di belakang layar, administrasi dan iklan. Namanya bisa dikenal promosi ke radio, Radio Garuda. Gak tahu harga promosi, tapi bayar,” jelasnya.

“Bentuk iklannya itu dongeng, disisipkan iklan, penyiarnya Tisna Suntara, orang Bandung pasti tahu. Sudah kepikiran sejak dulu promosi, tapi kan radio sedang booming dulu,” ujarnya.

Kini, kondisi usaha daging sapi pun tak lagi sama seperti dahulu.

“Jauh banget dari perekonomian, dulu kita motong sehari dua ekor. Kalau sekarang kita beli daging yang siap jual enggak motong, ambil ke Ciroyom atau ambil ke teman,” pungkasnya.

Jualan Daging Sapi Lewat Radio