Cirebon Raya Sepekan: Heboh Polemik Paket MBG di Majalengka

Posted on

Cirebon

Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Cirebon Raya (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) dalam sepakan ini. Mulai dari kecelakaan kapal motor di Indramayu hingga hujan es mengguyur wilayah Kabupaten Kuningan.

Berikut rangkuman berita Cirebon Raya pekan ini

1. KM Almujib Ditabrak Tongkang di Pulau Biawak, 2 ABK Tewas-4 Hilang

Kecelakaan terjadi di perairan utara Kabupaten Indramayu. Sebuah kapal nelayan, KM Almujib berukuran 6 Gross Ton (GT), karam setelah diduga ditabrak kapal tongkang di sekitar Pulau Rakit atau Pulau Biawak, Sabtu (28/2) sekitar pukul 22.00 WIB.

Peristiwa tersebut mengakibatkan dua anak buah kapal (ABK) meninggal, empat orang hilang, dan dua lainnya selamat.

Kasat Polairud Polres Indramayu, AKP Asep Suryana, menjelaskan bahwa saat kejadian KM Almujib membawa delapan ABK yang dinakhodai Jupri Priyanto. Kapal itu sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Karangsong pada Sabtu pukul 13.00 WIB menuju perairan Pulau Biawak untuk menjaring ikan.

“Setelah selesai menebar jaring, para ABK beristirahat dengan kondisi mesin kapal mati. Sekitar pukul 22.00 WIB, salah satu ABK terbangun dan melihat tongkang bernomor lambung 3009 sudah sangat dekat dan langsung menabrak lambung kiri kapal,” ujar Asep saat dikonfirmasi pada Minggu (1/3/2026).

Benturan keras membuat KM Almujib terseret sekitar 10 menit hingga lambung kapal bocor dan air masuk ke dalam badan kapal. Tak lama kemudian kapal tenggelam.

Para nelayan berupaya menyelamatkan diri di tengah kegelapan dan kengerian, dengan berpegangan pada jeriken dan potongan gabus yang mengapung.

Dua korban selamat yakni Carudin (48), warga Desa Brondong, yang berpegangan pada jeriken bekas solar, serta Alfianto Agus Sulistiyo (20), warga Kelurahan Paoman, yang menggunakan gabus. KM Sri Mulya menemukan keduanya pada Minggu (1/3/2026) sekitar pukul 04.30 WIB setelah terombang-ambing di laut semalaman.

Sementara itu, dua korban meninggal dunia adalah Jupri alias Kempot (35), nakhoda kapal, warga Desa Pabean Udik, dan Wandi (39), warga Desa Karangsong. Keduanya sempat berpegangan pada tali tongkang sebelum akhirnya terlepas dan ditemukan tewas. KM Cahaya Langgeng mengevakuasi jenazah ke Karangsong, lalu menyerahkannya kepada pihak kepolisian.

Adapun empat nelayan yang masih hilang yakni Ari Wibowo (23), Asep Agustina (24) warga Desa Penganjang, Mas’ud (38) warga Kelurahan Paoman, dan Ono (50) warga Desa Tambak.

“Kami telah memintai keterangan para saksi, berkoordinasi dengan keluarga korban, serta melaksanakan operasi SAR untuk menemukan empat korban yang masih hilang,” kata Asep.

2. Jeritan Wanita Cirebon Korban Pengantin Pesanan di China

Dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus “pengantin pesanan” mencuat di Kabupaten Cirebon. Seorang wanita muda berinisial V (20) asal daerah tersebut dikabarkan menjadi korban setelah diberangkatkan ke China untuk dinikahkan dengan warga negara asing (WNA).

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cirebon mengonfirmasi telah menerima dua laporan terkait dugaan kasus serupa yang melibatkan warga setempat dalam skema keberangkatan ke luar negeri.

Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menyatakan bahwa laporan tersebut kini tengah ditindaklanjuti melalui koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait. “Sejauh ini kami sudah menerima laporan dugaan kasus pengantin pesanan ini sebanyak dua kasus,” ujar Novi, Selasa (3/3/2026).

Novi menjelaskan bahwa secara substansi, persoalan tersebut berada di luar kewenangan Disnaker. Hal ini dikarenakan kasus tersebut tidak berkaitan langsung dengan prosedur penempatan tenaga kerja resmi (migran).

Namun, karena menyangkut keberangkatan warga ke luar negeri, masyarakat kerap mengaitkan persoalan tersebut dengan dinas tenaga kerja. “Kalau melihat kasus yang terjadi, sebenarnya bukan kewenangan Disnaker. Namun masyarakat biasanya mengira setiap keberangkatan ke luar negeri berkaitan dengan tenaga kerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila korban sudah berada di luar negeri, maka penanganannya menjadi ranah Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia melalui perwakilan diplomatik di negara tujuan.

Meski demikian, Disnaker Kabupaten Cirebon tetap melakukan langkah koordinatif lintas instansi untuk mendalami laporan yang masuk, termasuk berkomunikasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terduga pelaku mendatangi langsung korban dan keluarganya untuk menawarkan pernikahan dengan WNA. Setelah tercapai kesepakatan, korban kemudian diberangkatkan ke luar negeri.

“Modusnya mendatangi korban dan keluarganya, menawarkan pernikahan dengan WNA. Setelah sepakat, korban diberangkatkan,” ungkap Novi.

Ia menyebut pola tersebut sebagai modus baru yang mulai terdeteksi di wilayah Kabupaten Cirebon. Pemberangkatan kerap dilakukan secara senyap tanpa sepengetahuan pemerintah desa dan tidak melalui prosedur resmi negara.

Tak jarang, pelaku atau calo menjanjikan proses cepat serta kehidupan yang lebih baik di luar negeri agar korban dan keluarga tergiur. Padahal, praktik tersebut berpotensi kuat mengarah pada TPPO dengan risiko eksploitasi hingga kekerasan fisik maupun psikis.

3. SD di Majalengka Kembalikan Paket MBG

Sebuah sekolah dasar (SD) di Desa Sutawangi, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, memilih mengembalikan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikirim pada Rabu (4/3/2026). Keputusan itu diambil setelah menu dan porsi makanan selama Ramadan menuai keluhan dari siswa dan orang tua.

Pihak sekolah menolak kiriman paket pada hari itu, meminta pengelola dapur melakukan evaluasi.

Salah seorang guru di sekolah tersebut, Feri Apriyadi mengatakan, keluhan sebenarnya sudah muncul sejak awal Ramadan. Menurutnya, sekolah sempat menyampaikan masukan kepada dapur penyalur (SPPG), namun belum ada perubahan signifikan.

“Hari ini kami sepakat untuk tidak menerima paket MBG. (Tadi) Paket itu dibawa kembali oleh pihak drivernya,” kata Feri kepada.

Ia menjelaskan, persoalan utama terletak pada kualitas makanan yang dinilai menurun saat waktu berbuka tiba. Jarak antara waktu memasak dan konsumsi disebut terlalu lama. Hal itulah, kata Feri, yang selama ini dikeluhkan orang tua siswa.

“Ada nugget yang sudah tidak fresh, berbau. Ada puding yang sudah mencair. Ini mungkin kalau disantapnya siang hari, (mungkin) masih enak. Tapi ini kan anak-anak puasa, jadi mau disantapnya pas buka. Dan kondisinya sudah tidak layak. Banyak orang tua yang menyampaikan itu,” jelasnya.

Selain kualitas, porsi makanan juga dipersoalkan. Paket yang diterima siswa kelas 1 hingga kelas 6 disebut seragam, padahal berdasarkan informasi yang diterimanya terdapat perbedaan anggaran dan jumlah item menu sesuai jenjang kelas.

“Kan informasinya teh, untuk bayi sampai Kelas 3 SD, itu anggaran Rp8 ribu, dengan jumlah menu tiga item. Untuk kelas 4 sampai kelas 6, itu Rp10 ribu, isi empat item. Kalau ini mah, sama aja, dari kelas 1 sampai kelas 6 disamaratakan,” ujarnya.

Bahkan, kata Feri, sikap serupa juga diikuti dua SD lain di desa yang sama. Diketahui, dua SD lainnya juga menerima pasokan dari dapur yang sama di Desa Andir.

“SDN 1, 2, dan SDN 4 Sutawangi sepakat tidak menerima dahulu paket MBG,” kata dia.

“Kami tidak menolak programnya. Kami hanya minta ada evaluasi dan perbaikan supaya makanan yang diterima anak-anak benar-benar layak,” pungkasnya.

4. Petaka gegara Balita Main Korek Api di Kuningan

Suasana tenang di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, mendadak pecah pada Kamis (5/3/2026) pagi. Sebuah rumah milik warga bernama Asih (52) nyaris ludes dilalap si jago merah akibat aktivitas yang tak terduga dari sang cucu yang masih balita.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB itu bermula saat cucu Asih yang baru berusia tiga tahun, R, tengah bermain korek api di dalam rumah. Tanpa disadari, percikan api menyambar tumpukan pakaian yang berada tepat di samping sofa. Dalam hitungan detik, api merambat cepat, melahap material kain dan mulai menjalar ke perabotan lainnya.

Melihat kepulan asap dan api yang kian membesar, anak Asih yang bernama Abi, bergegas melakukan tindakan darurat. Dengan peralatan seadanya dan air, ia mencoba menjinakkan api yang mulai liar. Namun, upaya heroik itu harus dibayar mahal. Abi terkena semburan api yang menyambar wajahnya.

Meski menahan perih akibat luka bakar di pipi kiri, Abi tetap sigap menghubungi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan untuk meminta bantuan sebelum api ditakutkan semakin tak terkendali. Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma, mengonfirmasi kronologi insiden tersebut.

“Kebakaran di rumah Ibu Asih lantai 2 yang diduga akibat cucunya, R bermain korek api di dekat tumpukan pakaian hingga terbakar dan merembet ke barang-barang yang lain di sekitarnya. Api langsung berusaha dipadamkan oleh anak Asih bernama Abi dengan menggunakan air dan alat seadanya. Ketika proses pemadaman, bapak Abi malah mengalami kecelakaan semburan api sehingga luka bakar di pipi kirinya,” tutur Arga, Kamis (5/3/2026).

Merespons laporan tersebut, Damkar Kuningan segera menerjunkan empat personel ke lokasi kejadian. Beruntung, setibanya petugas di tempat kejadian perkara (TKP), api sudah berhasil dipadamkan oleh warga dan pemilik rumah. Petugas kemudian fokus pada proses pendinginan dan memastikan tidak ada titik api yang tersisa.

Akibat insiden ini, sejumlah barang berharga seperti tumpukan pakaian, jok kursi, lemari plastik, hingga meja televisi hangus terbakar. Sementara itu, Abi yang mengalami luka bakar cukup serius di bagian wajah langsung dilarikan ke RS Mandala Linggarjati untuk mendapatkan perawatan medis intensif.

“Karena api sudah padam, petugas melakukan penelusuran dan pengecekan kondisi sudah aman dari kebakaran dan memberikan edukasi kepada pemilik rumah dan warga setempat yang ada dilokasi. Proses investigasi berlangsung sekitar 15 menit,” tambah Arga.

5. Hujan Es Guyur Dua Desa di Kuningan

Fenomena hujan es terjadi kawasan Desa Ciporang, Kecamatan Maleber dan Desa Cinagara, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, pada Kamis (5/3/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.

Berdasarkan dokumentasi video dan foto yang tersebar di media sosial, tampak hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan permukiman warga. Fenomena alam tersebut tidak hanya membawa air, tetapi juga butiran es berukuran kecil.

Tuh loba dina aspal es kabeh (Lihat di aspal isinya es semua). Hujan es Ciporang, Maleber,” tutur salah seorang warga dalam video tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan Indra Bayu mengonfirmasi terjadinya peristiwa hujan es di Desa Ciporang dan Desa Cinagara. Indra mengatakan hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa.

“Iya di sekitar Ciporang dan Cinagara memang benar terjadi hujan es sore tadi. Belum ada laporan korban atau kerusakan. Ini tim lagi menuju ke sana, ” tutur Indra, Kamis (5/3/2026).

Indra menjelaskan hujan es tersebut dipicu oleh keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi. Kondisi ini menyebabkan butiran air terangkat ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi hingga membeku, kemudian membesar akibat arus udara kuat yang terjadi berulang kali. Turunnya butiran es tersebut berlangsung bersamaan dengan hujan lebat dan angin kencang.

“Butiran es tersebut akhirnya jatuh ke permukaan sebelum mencair. Hujan es terjadi dalam skala lokal, hanya berlangsung beberapa menit, dan biasanya disertai hujan lebat, kilat, serta angin kencang. Fenomena ini umumnya terjadi pada periode transisi musim,” tutur Indra.

Lebih lanjut, Indra memaparkan sejumlah indikasi yang dapat diidentifikasi sebelum terjadinya hujan es. Beberapa di antaranya adalah suhu udara yang terasa panas terik pada siang hari, munculnya tumpukan awan putih yang cepat berubah menjadi awan gelap (hitam), serta embusan angin kencang secara mendadak.

Kendati hanya berlangsung dalam durasi singkat, hujan es tetap memiliki potensi bahaya seperti pohon tumbang, kerusakan struktur bangunan, hingga risiko cedera fisik jika ukuran butiran es cukup besar. Oleh karena itu, BPBD Kuningan mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan.

“Waspada dengan selalu perbarui informasi cuaca dari BMKG mengenai potensi cuaca ekstrem seperti hujan es. Jika terjadi hujan es, segera berlindung atau memasukkan kendaraan ke dalam garasi atau rumah untuk menghindari kerusakan dan cedera,” pungkas Indra.