Cerita Warga Bandung Ketagihan Gorengan, Jadi Lauk untuk Sarapan

Posted on

Bandung

Selepas bangun pagi, Romadhan (23) langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, perantau asal Bandung Barat yang masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Bandung ini segera membuka gorden jendela.

Romadhan pun membuka kunci indekos, mengenakan sandal jepit, dan melepas gembok di gerbang indekosnya. Dia langsung berjalan ke arah kiri dari huniannya untuk membeli sarapan.

Bukan bubur ayam atau nasi kuning, Romadhan justru mencari gorengan. Kudapan ini kerap dijadikan makanan wajib yang biasa dia konsumsi untuk mengganjal perut di pagi hari.

“Makan gorengan karena murah,” ucap pria berambut ikal itu.

Romadhan menyebutkan, di kala pagi ia tak sulit mencari gorengan karena hanya perlu berjalan puluhan meter dari indekosnya. Apalagi di sekitar tempat tinggalnya yang berada di kawasan Cikutra memang menjamur penjual gorengan.

“Pagi-pagi tidak susah carinya, ada tiga penjual sekitar kosan,” ujarnya.

Menurut Romadhan, jika sedang sendiri, ia kerap membeli 5-7 potong gorengan. Jenis yang disukainya adalah bala-bala, gehu, dan cireng. Tak hanya untuk sarapan, saat makan siang atau malam pun, jika sedang ingin, Romadhan membeli gorengan untuk disantap bersama nasi.

“Seminggu 3-4 kali. Bisa buat sarapan pagi, tapi kadang pakai nasi,” tambah Romadhan.

Tak hanya Romadhan yang tinggal di indekos, warga pada umumnya pun kerap menjadikan gorengan sebagai lauk pelengkap nasi. Hal itu dilakukan Nugraha (28). Ayah satu anak ini sering membeli gorengan untuk teman makan nasi jika istrinya sedang bekerja atau tidak sempat memasak.

“Seminggu beli gorengan bisa tiga kali, belinya Rp5 ribu, isinya empat. Suka pakai nasi, sarapan pagi-pagi,” ujar Nugraha.

Warga Samoja, Kecamatan Batununggal ini menyebutkan bahwa ia sangat menyukai gorengan tempe, gehu, dan pisang goreng.

“Saya beli gorengan karena simpel, carinya mudah, dekat rumah ada dua pedagang penjual gorengan,” pungkasnya.

Kebiasaan Romadhan dan Nugraha mengonsumsi gorengan menjadi bukti nyata bahwa jenis makanan ini sangat digemari warga Bandung.

Apalagi merujuk data Survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung Tahun 2024, konsumsi gorengan di Kota Bandung mencapai sekitar 404,69 juta potong. Jika satu potong gorengan dibanderol Rp1.000, maka perputaran uangnya mencapai lebih dari Rp404 miliar setiap tahun. Jika harga per potong mencapai Rp2.000, perputaran uangnya bisa menembus lebih dari Rp808 miliar.