Cerita Ujang Ahli Kunci Masuk Ruang Paling Privat Pejabat Bandung

Posted on

Bandung

Di sudut Jalan Kebonjati, deru mesin halus memecah kebisingan lalu lintas. Di sana, Ujang, pria berusia 55 tahun itu tampak sedang tekun dan penuh konsentrasi mengamati setiap lekuk gerigi besi di tangannya.

Mengenakan kacamata yang membantu penglihatan di usianya yang sudah kepala lima, ia mengerjakan pesanan duplikasi kunci milik pelanggannya dengan tingkat presisi yang tinggi.

Sebelum dikenal sebagai ahli kunci di kawasan Kebonjati, Ujang memiliki pengalaman kerja lain di bidang teknis. Ia pernah bekerja di sebuah bengkel dan pabrik, namun keahlian kunci yang ia pelajari dari saudaranya menjadi bekal penting saat ia memutuskan berhenti.

Baginya, keterampilan ini adalah bekal agar tidak menganggur. “Ini kan istilahnya sebagai cadangan kalau keahlian itu. Coba Bapak kan pernah kerja di bengkel, di pabrik juga. Di mana keluar dari pekerjaan itu enggak menganggur,” ungkap Ujang saat ditemui pada Kamis (4/3/2026).

Kini, selain melayani jasa kunci, Ujang juga memiliki tanggung jawab lain. Ia dipercaya untuk menjaga gudang yang terletak tepat di belakang lapak kecilnya. “Saya tinggal di sini, di gudang. Sambil menjaga gudang, saya juga membuka lapak,” jelasnya tentang aktivitas sehari-harinya.

Mengenang masa lalunya, perjalanan Ujang menjadi ahli kunci dimulai sejak era 90-an. Ia awalnya belajar secara autodidak dengan ikut saudaranya di kawasan Banceuy. Pada masa itu, alat yang digunakan sangat terbatas.

“Dulu mah bikin kunci itu enggak ada bahan kuncinya. Jadi pakai bekas sendok, dikikir pakai tangan,” kenang Ujang.

Kini, meskipun tetap mangkal di pinggir jalan, peralatan kerjanya telah dilengkapi dengan mesin otomatis. Bahkan, beberapa alat khusus miliknya harus didatangkan langsung dari luar negeri.

“Ini beli baru. Ini kan enggak ada di toko nih. Jadi belinya langsung dari Taiwan, pesan 2 minggu baru datang,” ujarnya sambil menunjukkan mesin tersebut.

Meskipun menggunakan peralatan canggih dan memiliki jam terbang tinggi, Ujang tetap mematok harga yang terjangkau untuk jasa duplikasi. Tarif yang ia berikan sangat bergantung pada kerumitan dan jenis bahan kunci yang digunakan.

“Kalau kunci rumah atau kunci kamar 15 ribu, ada yang 25 ribu satu kuncinya. Kalau kunci motor itu 35 ribu-an,” jelas Ujang terkait tarif layanannya.

Namun, untuk kasus kehilangan kunci total yang mengharuskan pembongkaran sistem, tarifnya tentu berbeda. Untuk kunci mobil manual yang hilang, harganya bisa mencapai Rp300.000. Sementara itu, untuk teknologi kunci modern seperti immobilizer, tarifnya bisa lebih tinggi lagi karena kerumitan sistem digitalnya.

Untuk pembuatan kunci standar yang umum ditemui, Ujang hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat. “Dulu mah masih manual, belum ada mesin bisa sampai 30 menitan. Karena sekarang, udah pake mesin, mungkin cuma satu menitan beres,” jelas Ujang sambil menunjuk mesin duplikasinya. Kecepatan ini sangat membantu pelanggan yang seringkali datang dalam kondisi terburu-buru atau darurat.

Namun, durasi pengerjaan bisa berubah menjadi lebih lama tergantung pada tingkat kesulitan dan metode yang diminta. Jika pelanggan meminta pembuatan kunci secara manual, mungkin karena jenis kunci yang spesifik atau permintaan khusus, waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama.

Sumpah Tukang Kunci

Menjadi tukang kunci bukan sekadar tentang presisi logam, melainkan tentang kepercayaan yang berat. Ujang mengungkapkan bahwa dalam dunia tukang kunci yang memegang teguh tradisi, terdapat janji yang harus dipatuhi.

“Kalau yang benar-benar tahu dan jujur, ada sumpahnya. Saya saat dulu belajar juga berjanji sama yang ngajarin,” tegas Ujang.

Ujang, Ahli Kunci yang sedang mengerjakan duplikasi kunci di lapaknya Foto: Shifa Lupiah Ajijah/

Hal itu bukan tanpa alasan, sebab keahlian ini bisa menjadi senjata berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Menurutnya, “Jika tukang kunci mau jadi maling, ia bisa lebih pintar daripada maling itu sendiri.”

Kehati-hatian inilah yang membuatnya sempat dua kali berurusan dengan pihak kepolisian akibat ketidaktelitian menerima pelanggan. Ia pernah tertipu oleh seseorang yang mengaku kehilangan kunci mobil, namun ternyata mobil tersebut bukan miliknya. Pengalaman pahit itu menjadi pelajaran, ia bisa mengenali kendaraan hasil curian hanya dari tawaran harga yang tidak masuk akal dari pelanggan.

Langganan Pejabat di Bandung

Kini, reputasi Ujang tidak hanya diakui oleh masyarakat biasa, tetapi juga oleh kalangan pejabat tinggi di Kota Bandung. Ia sering dipanggil untuk menangani keadaan darurat di rumah dinas hingga kantor pemerintahan. Bahkan, karena keahliannya ia diperkenankan untuk masuk ke ruang paling privat dari gubernur atau bupati.

“Selama jadi tukang kunci, saya pernah masuk ke kamar Gubernur dan Bupati,” ungkapnya dengan nada bangga.

Tugasnya bervariasi, mulai dari membuka lemari-lemari besar yang kuncinya hilang hingga memperbaiki akses pintu yang bermasalah di Balai Kota Bandung.

Meski kini zaman beralih ke teknologi smart lock dan immobilizer, Ujang tak gentar. Ia menyadari bahwa penggunaan kunci fisik mungkin mulai berkurang, namun kebutuhan akan jasa tukang kunci tetap ada.

“Kalau kitanya pintar-pintar ikutin keadaan ya menurut saya sekarang kan waktunya digital. Kalau kitanya enggak bisa ngikutin digital ya susah,” jelas Ujang.

Di usianya yang sudah memasuki 55 tahun, Ujang masih tampak bugar dan bersemangat. Meski ia tidak memaksakan ketiga anaknya untuk meneruskan profesinya secara penuh, ia tetap mewariskan keahlian tersebut sebagai cadangan hidup. Ia percaya bahwa keahlian tangan adalah modal yang akan selalu relevan.

“Ya balik lagi, keahlian ini kan istilahnya sebagai cadangan. Dengan keahlian ini, seseorang tidak akan menganggur jika keluar dari pekerjaan,” tutupnya