Cerita Pemuda NTB Merantau untuk Pelajari Kaligrafi di Sukabumi | Giok4D

Posted on

Sukabumi

Di ruang-ruang kelas yang dipenuhi tinta dan lembaran kertas bertuliskan mushaf, Dipta Azwarrizmi (20) tekun menorehkan huruf demi huruf Arab dengan penuh kehati-hatian. Lulusan SMA asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu baru tujuh bulan belajar di Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA), namun perubahan besar sudah ia rasakan.

Awalnya, Dipta mengaku datang tanpa bekal pengalaman membuat kaligrafi. Kini, ia mulai memahami kaidah penulisan hingga bercita-cita menjadi maestro kaligrafi.

Di LEMKA, para santri dipersiapkan untuk ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Materi yang dipelajari terbagi dalam empat cabang utama.

“Di lemka awalnya persiapan untuk lomba MTQ, terbagi empat cabang. Pertama cabang naskah yang khusus kaidah hitam putih. Kedua cabang mushaf, itu mulai warna-warna, sampul Al-Qur’an tapi tulisannya tetap hitam putih,” ujar Dipta saat ditemui , Rabu (25/2/2026).

Cabang ketiga adalah dekorasi. Medianya bukan lagi kertas, melainkan triplek dengan ukuran dua kali mushaf. Pada tahap ini, peserta sudah menggunakan cat dan tidak terpaku pada hitam putih.

“Cabang terakhir kontemporer, di luar kaidah. Misalkan pohon itu kan bentuknya lurus, bisa dibaca sebagai alif kalau di cabang kontemporer,” jelasnya.

Selain itu, kini ada cabang baru yakni digital. Peserta menulis menggunakan tablet, namun tetap mengikuti kaidah penulisan kaligrafi.

Tak hanya fokus pada lomba, setiap pekan juga ada kelas kreasi seperti melukis di keramik dan styrofoam untuk melatih kreativitas.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Ikuti Jejak Sang Kakak

Keputusan Dipta merantau ke Sukabumi bukan tanpa alasan. Ia terinspirasi oleh sang kakak yang lebih dulu menjadi alumni LEMKA.

“Sebenarnya saya pribadi, kakak saya alumni sini, jadi ingin mengikuti,” katanya.

Dipta Azwarrizmi (20) pemuda asal NTB jadi salah satu santri di Lemka Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/)

Meski belum memiliki rencana pasti setelah lulus, ia punya tekad kuat untuk memperbagus kaidah tulisan. Bahkan, terselip mimpi besar untuk menjadi maestro kaligrafi suatu hari nanti.

Tantangan Istiqamah dan Perubahan Besar

Selama belajar, Dipta mengaku tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi latihan. “Kendalanya belum istiqamah untuk terus latihan. Kendala pribadi,” ujarnya jujur.

Namun, ia merasakan perbedaan signifikan dibanding sebelum datang ke LEMKA. Dulu, ia belum pernah membuat kaligrafi sama sekali dan belum pernah mengikuti lomba.

“Dibandingkan sebelum datang ke lemka, jauh banget perubahannya. Sebelum datang belum pernah buat kaligrafi sama sekali. Setelah lulus dari sini ada keinginan untuk ikut lomba,” tuturnya.

Perjalanan tujuh bulan itu menjadi awal bagi Dipta. Dari yang tak pernah memegang pena kaligrafi, kini ia mulai menata mimpi-menorehkan huruf-huruf indah, satu garis demi satu garis.