Bandung –
Pernahkah terlintas di pikiran Anda mengapa penggunaan pakaian oversized* kini sangat populer di kalangan Generasi Z? Padahal, pada era 2000-an, celana ketat atau skinny jeans menjadi pilihan utama anak muda saat itu. Fesyen nyatanya bukan sekadar pakaian yang melekat di tubuh, melainkan cerminan pergeseran budaya, ekonomi, dan identitas sosial.
Seiring berjalannya waktu, pakaian menjadi bahasa visual yang membedakan satu generasi dengan generasi berikutnya. Kemunculan tren fesyen umumnya menyebar berdasarkan teori trickle-down, di mana tren bermula dari kalangan atas yang kemudian diproduksi massal untuk masyarakat luas. Namun, di era digital, muncul fenomena yang bergerak sebaliknya. Berikut adalah evolusi tren fesyen dari masa ke masa:
Era Baby Boomers
Generasi Baby Boomers lahir di masa pasca-Perang Dunia II, saat stabilitas ekonomi mulai terbentuk. Di Indonesia, pengaruh budaya Barat mulai masuk melalui film dan musik. Fesyen di era ini mencerminkan semangat perubahan sosial terhadap nilai-nilai konservatif.
Pada 1950-an, gaya busana cenderung sangat terstruktur dan elegan. Pria identik dengan setelan jas rapi, sementara wanita mengenakan rok lebar (poodle skirts) dengan siluet gaun jam pasir (new look*). Memasuki 1960-an, muncul rok mini yang revolusioner. Di akhir era ini, gerakan *hippie* membawa tren celana cutbray, motif *tie-dye, dan aksesori bunga sebagai simbol perdamaian.
Generasi X
Memasuki era Generasi X, tren fesyen mulai menyentuh aspek fungsionalitas. Penggunaan material sintetis mulai marak dan konsep pakaian olahraga untuk harian (athleisure) mulai tampak. Fesyen bukan lagi soal kemewahan, melainkan keberanian ekspresi individu yang lebih santai. Gen X adalah saksi lahirnya MTV dan budaya pop yang kuat.
Tahun 1970-an didominasi gaya disko dengan kain metalik, satin, dan sepatu platform* yang tinggi. Berlanjut ke 1980-an, muncul prinsip “*more is more*” yang ditandai dengan bahu lebar (*power suits*), warna neon, rambut bervolume, serta penggunaan *leg warmers*. Pada awal 1990-an, muncul gaya *grunge* yang terinspirasi musik *rock seperti Nirvana, identik dengan kemeja flanel kebesaran, jins robek, dan sepatu bot Dr. Martens.
Milenial
Generasi Milenial tumbuh bersamaan dengan ledakan internet dan globalisasi. Hal ini berkontribusi pada pesatnya perkembangan fast fashion. Merek global mulai merajai pasar lokal Indonesia, mempercepat rotasi tren secara signifikan. Gaya mereka sangat dipengaruhi oleh selebriti pop dan estetika awal internet.
Era 2000-an (Y2K) ditandai dengan celana low-rise* (pinggang rendah), jaket beludru, dan aksesori serba *pink* atau *bling-bling*. Memasuki era 2010-an, muncul tren *skinny jeans yang menjadi standar global selama hampir satu dekade.
Generasi Z
Gen Z membawa perubahan radikal dalam industri fesyen. Tren thrifting* atau membeli pakaian bekas kini menjadi gaya hidup. Mereka bangga mengadopsi pakaian *pre-loved, di mana kemampuan memadupadankan gaya unik menjadi nilai prestise tersendiri.
Secara karakteristik, Gen Z menyukai nostalgia modern dengan menghidupkan kembali tren Y2K dan 90-an lewat sentuhan kontemporer. Pakaian oversized*, celana *baggy*, dan *chunky sneakers* menjadi seragam harian mereka. Selain itu, aspek keberlanjutan (*sustainability*) dan gaya *gender-neutral (unisex) menjadi fokus utama, menciptakan ruang ekspresi yang lebih inklusif.
Teknologi digital telah mempercepat durasi sebuah tren. Jika dahulu tren membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berpindah negara, kini hanya butuh hitungan detik melalui unggahan influencer*. Penggunaan algoritma dalam *e-commerce juga membantu konsumen menemukan sub-budaya fesyen yang sangat spesifik.
Perjalanan fesyen dari generasi ke generasi membuktikan bahwa apa yang kita kenakan adalah refleksi kondisi sosial masanya. Memahami sejarah fesyen membantu kita menghargai nilai di balik pakaian hari ini, sekaligus menyadari bahwa gaya adalah cara paling sederhana untuk menunjukkan jati diri tanpa harus berbicara.
