Berkah Ramadan, Perajin Kolang-kaling di Pangandaran Kebanjiran Order

Posted on

Purwakarta

Nana Priatna (52), warga Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, mendapatkan rezeki nomplok setiap bulan suci Ramadan. Perajin sekaligus penjual kolang-kaling ini mengaku kewalahan melayani pesanan yang melonjak tajam.

Tangan Nana tampak terampil mengolah buah aren menjadi kolang-kaling siap konsumsi untuk berbagai sajian takjil. Jika pada hari biasa ia harus menjajakan dagangannya ke pasar, selama Ramadan Nana cukup duduk manis di rumah karena pesanan datang silih berganti.

Lantaran pohon aren di wilayah Pangandaran kian langka, kolang-kaling buatan Nana menjadi buruan para pedagang. Kepiawaiannya mengolah buah aren selama puluhan tahun membuatnya menjadi salah satu produsen yang paling dipercaya di wilayah tersebut.

Karena volume produksi yang meningkat drastis, Nana tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan tetangga dan keluarganya untuk meracik kolang-kaling.

Proses pengolahannya dimulai dari pemilihan buah aren, pengupasan, pembersihan, hingga perebusan. Setelah itu, buah direndam dalam air hangat. Proses penirisan memakan waktu cukup lama guna memastikan tekstur kolang-kaling sempurna.

“Setiap Ramadan saya pasti meminta bantuan keluarga dekat dan tetangga untuk menjadi pekerja lepas. Proses pengolahan dalam skala besar memerlukan tenaga tambahan,” ujar Nana kepada , Senin (23/2/2026).

Nana perajin kolang kaling Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadilah/

Bagi Nana, pekerjaan ini bukan hal mudah, namun sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun. “Setiap hari saya mengolah kolang-kaling. Apalagi sekarang bulan Ramadan, permintaannya meningkat pesat dibanding hari biasa,” ucapnya.

Keuntungan yang diraup pun meningkat. Jika biasanya harga kolang-kaling dipatok Rp 8.000 per kilogram, kini harganya naik menjadi Rp 10.000 per kilogram.

Dalam sehari, Nana mampu memproduksi hingga 50 kilogram kolang-kaling. Angka ini melonjak signifikan dibanding hari biasa yang hanya berkisar 20 kilogram.

Namun, kenaikan harga juga terjadi pada bahan baku. Sebelumnya, satu pohon aren yang diborong (menghasilkan sekitar satu kuintal buah) dihargai Rp 50.000. Saat Ramadan, harganya melonjak hingga Rp 100.000 per pohon.

“Sekarang bahan baku agak susah karena pohon aren mulai langka. Kami beli ke warga, kadang ada, kadang tidak. Kalaupun ada, harganya lumayan mahal,” keluh Nana.

Kelangkaan pohon aren menjadi tantangan tersendiri bagi Nana. Ia harus lebih jeli mencari bahan baku agar produksi tetap berjalan. Meski demikian, semangatnya tak surut.

Baginya, kolang-kaling adalah sumber penghidupan yang harus disyukuri. Tak hanya dipasarkan di wilayah Pangandaran, hasil olahan Nana juga dikirim hingga ke Cilacap, Jawa Tengah.

Jaringan pelanggan yang luas membuat usahanya tetap bertahan di tengah fluktuasi harga bahan baku. Bagi Nana, bulan Ramadan bukan sekadar momen peningkatan omzet, tetapi juga pengingat akan pentingnya ketekunan. “Dari alam ya lumayan Kang, buat menyambung hidup. Yang penting kita mau kerja keras,” pungkasnya.