Organisasi Advokasi Lingkungan Geopix mengkritik pembukaan kembali Bandung Zoo yang dinilai mengabaikan kondisi satwa. Berdasarkan temuan lapangan, lembaga yang fokus pada isu ekosistem ini menduga satwa dilindungi seperti orangutan, gajah, dan monyet hitam memerlukan evaluasi segera.
Humas BBKSDA Jawa Barat Eri Mildranaya menyatakan pihaknya telah melaporkan temuan tersebut kepada pimpinan BBKSDA Jabar dan Kementerian Kehutanan. Menurut Eri, satwa yang disebut Geopix terindikasi stres kini sudah ditangani, begitu pula dengan satwa lainnya.
“Secara teknis, semua satwa di Bandung Zoo, termasuk yang kemarin viral, dalam perhatian serta perawatan kiper dan dokter hewan Bandung Zoo,” kata Eri saat dikonfirmasi via pesan singkat, Selasa (27/1/2024).
Kondisi satwa yang terindikasi stres tersebut kini stabil dan tetap dalam pemantauan BBKSDA Jabar. “Keeper dan dokter hewan Bandung Zoo lakukan atensi terhadap satwa di sana,” tambahnya.
Sebelumnya, Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati menegaskan keselamatan dan kesejahteraan satwa harus menjadi prasyarat kunci sebelum kebun binatang dibuka untuk publik, di tengah konflik pengelolaan yang masih berlangsung.
“Kami mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan untuk tidak tergesa-gesa membuka kembali kebun binatang tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan benar-benar layak,” kata Annisa dalam keterangan tertulis yang diterima infoJabar, Senin (19/1) lalu.
“Bahkan kelayakan tersebut tidak sekedar terpenuhinya kebutuhan pakan yang telah dilakukan oleh Kementerian Kehutanan, tetapi para pihak juga harus memastikan aspek-aspek pengelolaan lainnya telah siap secara utuh seperti kesejahteraan tenaga kerja serta yang lebih penting kesejahteraan satwa-satwanya,” tambahnya.
Menurutnya, temuan lapangan terkait dugaan kondisi stress orangutan, gajah dan monyet hitam, sangat mengkhawatirkan, memprihatinkan dan tidak boleh diabaikan.
Hal senada dikatakan, Senior Biologist dan Wildlife Curator – Center for Orangutan Protection Indira Nurul Qomariah. Menurutnya, pada primata termasuk orangutan dan monyet hitam, kebotakan di lengan dan kaki bawah dapat disebabkan oleh adanya penyakit kulit, malnutrisi, atau stres (akibat kebosanan atau kebiasaan kompulsif) yang memicu perilaku seperti overgrooming.
“Kebotakan dapat juga disebabkan oleh penyakit genetik seperti alopecia. Perlu dilakukan pemeriksaan medis dan observasi perilaku lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebotakan tersebut,” ujar Indira.
Indira juga menyoroti kondisi gajah yang diduga menunjukkan gejala stres yang serius.
“Gajah menunjukkan perilaku stereotip berupa swaying (gerakan berulang tanpa tujuan), yang termasuk indikator stres. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung kesejahteraan satwa, antara lain kurangnya pengayaan (enrichment) atau kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan gajah lainnya,” terangnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
