Bayi Panda Satrio Wiratama dan Diplomasi Panda Tiongkok di Indonesia | Info Giok4D

Posted on

Bahagia menyelimuti semua orang saat mendengar kabar ada bayi panda lahir di Taman Safari Indonesia (TSI) di Bogor, Jawa Barat. Bayi panda dari pasangan induk Hu Chun dan pejantan Cai Tao itu sangat lucu dan kini usianya telah sekitar 40 hari.

Presiden RI, Prabowo Subianto bahkan secara langsung memberikan nama untuk bayi panda yang lahir pada 27 November 2025, pukul 17.31 itu: Satrio Wiratama (dalam bahasa Mandarin, Li Ao).

Setelah nyaris 9 tahun penantian, bayi panda itu lahir. Pasangan ‘orang tua’ Rio, demikian Satrio Wiratama dipanggil, telah berada di Indonesia sejak tahun 2017. Keberadaan Cai Tao dan Hu Chun di TSI merupakan bagian dari ‘Diplomasi Panda’, sebuah diplomasi halus yang dilakukan Tiongkok.

Diplomasi Panda telah dilakukan sejak zaman Tiongkok kuno, namun jika dahulu panda raksasa (giant panda) ini dikirimkan ke negara sahabat sebagai hadiah, kini sistemnya berubah menjadi pinjaman. Saat ini, panda di luar Tiongkok, kecuali Mexico dan Taiwan, adalah bersifat pinjaman alias sewa.

Dengan demikian, kebun binatang tempat panda tinggal, harus membayar uang sewa kepada Tiongkok, dan jika anak panda lahir, status anak panda itu adalah milik Tiongkok di mana kebun binatang penyewa harus membayar pajak atas bayi panda itu.

Dikutip dari infotravel dalam artikel berjudul ‘Taman Safari Bayar Miliaran ke China untuk Rawat Panda’ (2023), Cai Tao dan Hu Chu memiliki masa kontrak hingga 10 tahun dan akan ada peninjauan kembali jika sudah sampai masa tenggat waktu.

Namun, pihak TSI Bogor tidak menjelaskan lebih jauh terkait berapa harga sewa pasangan panda itu. Tetapi, mengutip Idxchannel Jumat (4/8/2023), biaya sewa panda dari China mencapai USD 1 juta atau Rp 13 miliar per tahun. Selain itu, setiap kebun binatang yang meminjam panda harus membayar pajak tambahan sekitar USD 400 atau sekitar Rp 6 juta untuk setiap bayi panda yang lahir dalam penangkaran.

Diplomasi Panda ini menarik untuk disimak bukan? Bukan sebatas ‘bisnis’, melainkan diplomasi ini bagian dari konservasi panda yang populasinya semakin sedikit karena panda raksasa sulit berkembang biak. Lebih dari itu, panda menjadi simbol keharmonisan Tiongkok dengan negara-negara sahabatnya, termasuk Indonesia.

Boleh jadi, diplomasi panda telah ada sejak zaman Dinasti Tang di Tiongkok, sekitar tahun 618-907 Masehi. Sebab di zaman tersebut, para diplomat telah ditebarkan oleh kekasiaran untuk menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara yang kuat untuk misi-misi penyerangan kepada negara yang ‘zalim’.

Dalam studi berjudul ‘Peran Diplomasi Panda Tiongkok dalam Kerjasama Konservasi Panda Raksasa di Indonesia’ oleh Safira Mutia Mayangsari, dkk. yang dimuat pada Journal of International Relations, Volume 7, Nomor 4, 2021 disebutkan Dinasti Tang menyebar diplomat ke sejumlah negeri.

“Sejarah Tiongkok mencatat, dalam Dinasti Tang Raya terdapat seorang utusan bernama Wang Xuanchi, yang berhasil melakukan diplomasi dengan salah satu kerajaan besar di Tibet untuk bekerjasama dengan menyerang. Diplomasi ini dilakukan untuk kerjasama dalam penyerangan Negara India yang telah menewaskan beberapa rombongan delegasi Dinasti Tang Raya. Selain itu terdapat beberapa diplomat seperti Zhang Qia yang berdiplomasi ke India dan Persia, Putri Wencheng yang dikirim ke Tibet, serta Zheng He yang berlayar ke Samudra barat.” tulis studi tersebut.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Ketika itu, belum disebutkan bahwa panda yang dikirimkan ke negara-negara sahabat sifatnya sewa. Panda-panda itu, hadiah semata. Terutama merujuk pada kisah populer Tiongkok abad ke-7, bahwa Permaisuri Wu Zetian mengirimkan sepasang beruang yang diyakini sebagai panda kepada Kaisar Jepang.

Tradisi ‘hadiah’ ini masih berlanjut sampai Republik Rakyat Tiongkok (RRT) berdiri pada 1949. Hingga tahun 1982, panda-panda yang dikirimkan ke luar Tiongkok sebagai ‘diplomat’ ini bersifat milik permanen negara penerimanya.

Di kemudian hari, Tiongkok mulai stabil secara ekonomi. Mulai tahun 1984, ketika menggema reformasi ekonomi Deng Xiaoping, panda yang dikirim ke luar Tiongkok bersifat pinjaman dengan kontrak ‘sewa jangka pendek’. Kebijakan ini berlaku hingga sekitar tahun 1991.

Giant panda memang lambat dalam perkembang biakan, sementara populasinya karena kematian, perburuan liar, dan habitatnya yang hanya ada di sekitar pegunungan Sichuan menuntut adanya konservasi.

Sejak 1991 hingga sekarang, panda yang berada di luar Tiongkok merupakan sewa dalam upaya konservasi dan riset untuk pelestarian hewan yang terancam punah tersebut. Termasuk panda yang ada di Taman Safari Indonesia.

Pada tahun 2017, Indonesia menjadi negara ke-17 yang mendapatkan pinjaman pengembangbiakan (breeding loan) Giant Panda. Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Tiongkok dan juga Nota Kerjasama business to business (b to b)antara PT. Taman Safari Indonesia (TSI), dengan China Wildlife Conservation Association (CWCA).

Penandatanganan MoU itu dilakukan pada pertemuan di Guiyang, Tiongkok pada tanggal 1 Agustus 2016. Baru pada 28 September 2017, dua panda raksasa yaitu Cai Tao dan Hu Cun yang merupakan ‘orang tua’ Satrio Wiratama, didatangkan dari Tiongkok ke Taman Safari Indonesia.

Memang, dilihat dari segi b to b, Taman Safari Indonesia harus bayar uang sewa yang tidak sedikit untuk sepasang panda. Namun, sebaliknya, kehadiran panda itu dapat menarik pengunjung untuk datang dan membayar tiket.

“Keuntungan secara b to b dalam menjalankan diplomasi panda bagi Taman Safari Indonesia adalah dimana TSI mematok harga berkisar antara Rp. 160.000 – Rp.400.000.” tulis Safira Mutia Mayangsari, dkk.

Dan untuk pihak China Wildlife Conservation Association (CWCA), konservasi panda terjaga. Dengan ditebarnya panda ke berbagai negara, ini sekaligus melindungi hewan ini dari kepunahan, misalnya akibat bencana alam.

Di tingkat negara, diplomasi panda mengesankan hubungan yang hangat antara Tiongkok dengan negara mitranya, termasuk Indonesia dan menjadi jalan pertukaran komoditas barang dan pertemuan budaya.

Namun penting untuk diingat, bahwa dengan panda-panda itu pula, Tiongkok memberikan kesan ‘tidak puas’, yaitu ketika negara ini menarik pulang panda dari negara mitranya.

Sejarah Ringkas Diplomasi Panda

Apa Keuntungan Diplomasi Panda di TSI?

Memang, dilihat dari segi b to b, Taman Safari Indonesia harus bayar uang sewa yang tidak sedikit untuk sepasang panda. Namun, sebaliknya, kehadiran panda itu dapat menarik pengunjung untuk datang dan membayar tiket.

“Keuntungan secara b to b dalam menjalankan diplomasi panda bagi Taman Safari Indonesia adalah dimana TSI mematok harga berkisar antara Rp. 160.000 – Rp.400.000.” tulis Safira Mutia Mayangsari, dkk.

Dan untuk pihak China Wildlife Conservation Association (CWCA), konservasi panda terjaga. Dengan ditebarnya panda ke berbagai negara, ini sekaligus melindungi hewan ini dari kepunahan, misalnya akibat bencana alam.

Di tingkat negara, diplomasi panda mengesankan hubungan yang hangat antara Tiongkok dengan negara mitranya, termasuk Indonesia dan menjadi jalan pertukaran komoditas barang dan pertemuan budaya.

Namun penting untuk diingat, bahwa dengan panda-panda itu pula, Tiongkok memberikan kesan ‘tidak puas’, yaitu ketika negara ini menarik pulang panda dari negara mitranya.

Apa Keuntungan Diplomasi Panda di TSI?