Banjir melanda Desa Bugel, Kecamatan Patrol, akibat luapan Sungai Pembuang Bugel yang berhulu di Sungai Plawad setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu, Jumat (23/1/2026). Peristiwa ini mengakibatkan 225 rumah terdampak dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 900 jiwa, serta mengancam 52 hektare lahan pertanian yang baru ditanami.
Warga setempat, Farhan (24), menyampaikan rumahnya kemasukan air, namun masih dalam kondisi yang tidak mengkhawatirkan.
“Air masuk ke rumah, di ruang tamu, ruang TV. Hanya genangan kecil sekitar 5 sentimeter. Tapi kalau teras rumah bisa sampai 15 sentimeter,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (23/1/2026) siang.
Berbeda dengan Farhan, kali ini Dewi mengaku rumahnya kemasukan air hingga 10 sentimeter, terutama di ruang tamu yang relatif lebih rendah ketimbang ruang TV.
“Kalau air itu masuk ruang tamu kurang lebih 15 sentimeter, beda sama ruang TV karena di ruang TV tanahnya lebih tinggi,” ungkap Dewi saat ditemui di depan rumahnya, Jumat (23/1/2026) siang.
Camat Patrol, Bagus Asep Trisnadi, mengatakan banjir di wilayahnya merupakan kejadian yang berulang, khususnya di beberapa desa rawan.
“Perlu diketahui, di Kecamatan Patrol ada delapan desa. Daerah yang memang rawan dan langganan banjir antara lain Desa Limpas, Patrol, Sukahaji, dan Bugel. Namun yang paling sering terdampak adalah Desa Bugel,” ujarnya saat ditemui tidak jauh dari lokasi, Jumat (23/1/2026) sore.
Menurut Bagus, banjir dipicu luapan Sungai Pembuang Bugel yang menerima aliran air dari Sungai Plawad. Saat hujan deras terjadi di wilayah hulu, air mengalir ke hilir dan meluap ke permukiman warga.
“Ketika hujan besar terjadi di hulu Sungai Plawad, setelah reda air langsung turun dan bermuara ke Sungai Pembuang Bugel. Dari luapan itu, air masuk ke wilayah Bugel dan Sukahaji,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi geografis turut memperparah dampak banjir. Kontur tanah Desa Bugel yang lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya membuat genangan air lebih tinggi dan bertahan lebih lama.
Bagus menambahkan, ketinggian air di permukiman warga mencapai 70-80 sentimeter di luar rumah, sementara di dalam rumah berkisar 5-10 sentimeter. Selain merendam rumah, banjir juga berdampak pada sektor pertanian.
“Sebanyak 52 hektare lahan sawah yang baru ditanami sekitar satu minggu terancam gagal tanam karena benih padi terendam dan akar tanaman belum kuat,” jelasnya.
Dalam penanganan bencana, pemerintah kecamatan telah melakukan koordinasi lintas sektoral.
“Kami berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kapolsek, Danramil, tenaga kesehatan, BPBD, Dinas Sosial, serta DKKP. Langkah awal yang dilakukan adalah mitigasi dan penentuan titik evakuasi,” kata Bagus.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Indramayu, Agus, menyampaikan bahwa kondisi banjir di Desa Bugel saat ini mulai berangsur surut.
“Kami menerima laporan dari Camat Patrol sekitar pukul 10.00 sampai 11.00 WIB dan langsung melakukan asesmen cepat. Saat itu, ketinggian air di jalan desa mencapai 60-70 sentimeter, dan di dalam rumah sekitar 10 sentimeter,” ujarnya saat ditemui bersamaan dengan Camat Patrol.
Agus menyebutkan, BPBD bersama pemerintah desa dan kecamatan telah menyepakati langkah evakuasi apabila kondisi memburuk.
“Evakuasi akan dilakukan jika ketinggian air mencapai 80-90 sentimeter dan masuk ke rumah warga hingga sekitar 40 sentimeter. Titik kumpul dan jalur evakuasi juga sudah ditetapkan,” katanya.
Berdasarkan pemantauan hingga pukul 17.30 WIB, debit air terus menurun sehingga logistik dan tenda pengungsian belum diperlukan. Meski demikian, BPBD telah menyiagakan bantuan logistik dan terus melakukan monitoring intensif.
“Kendala utama banjir ini berasal dari luapan Sungai Plawad yang sangat bergantung pada intensitas hujan di wilayah hulu, khususnya di Desa Arjasari. Jika hujan deras, dampaknya langsung terasa di wilayah hilir seperti Bugel dan Patrol,” jelas Agus.
Ia menambahkan, koordinasi dengan BBWS dan PUPR telah dilakukan, terutama terkait kondisi tanggul dan sedimentasi sungai.
“Secara umum kondisi masih terkendali, namun sedimentasi yang tinggi dan tanggul di Desa Bugel yang relatif lebih rendah menjadi faktor risiko luapan,” pungkasnya.
Hingga saat ini, pemerintah daerah bersama BPBD masih melakukan pemantauan berkala, dan mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air susulan.
