Bandung Sepekan: Akhir Maut Pencari Harta Karun, Macan Terkam Warga

Posted on

Bandung

Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di Bandung Raya dalam sepekan. Mulai dari polemik di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo yang berujung penyegelan, hingga kemunculan macan tutul di Pacet, Kabupaten Bandung yang melukai dua orang.

Berikut rangkuman Bandung Raya sepekan:

Polemik di Bandung Zoo yang Berujung Penyegelan

Ksbun Binatang Bandung atau Bandung Zoo kembali menghadapi polemik berkepanjangan. Kamis (5/2) kemarin, Kementerian Kehutanan menyegel area wisata edukasi satwa itu karena Kementerian Kehutanan mencabut izin lembaga konservasi milik Yayasan Margasatwa Tamansari selaku pengelola.

Penyegelan berlangsung lancar tanpa perlawanan. Pemkot Bandung ikut bergerak mengamankan aset di lokasi tersebut, mengingat pemerintah mengeklaim area itu merupakan aset milik daerah.

Tak hanya soal aset dan satwa, Pemerintah Kota Bandung juga memberi perhatian pada aspek sosial. Wali Kota Bandung Muhanmad Farhan memastikan nasib para pekerja tetap diperhatikan dan mereka dapat melanjutkan pengabdian bersama Pemkot Bandung sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah penyegelan, kesepakatan diambil antara Pemkot Bandung, Dinas Kehutanan Jabar, dan Kementerian Kehutanan. Hasilnya, Bandung Zoo dipastikan akan ditutup untuk umum selama tiga bulan ke depan.

“Disegel sampai maksimal tiga bulan. Pada prinsipnya, sesuai dengan undang-undang, pengelolaan kebun binatang harus dilakukan oleh lembaga konservasi berbadan hukum,” kata Farhan di Ruang Tengah Balai Kota Bandung, Jl Wastukencana.

Bandung Zoo disegel Foto: Rifat Alhamidi/

Selama masa penyegelan, pemerintah tetap menjamin nasib satwa maupun karyawan Bandung Zoo. Urusan satwa nantinya menjadi kewenangan Kementerian Kehutanan, sementara biaya operasional hingga gaji karyawan akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemkot Bandung.

Dengan kondisi ini, Bandung Zoo dipastikan tertutup bagi warga maupun wisatawan. Faktor kesehatan satwa menjadi pertimbangan utama karena Pemkot maupun Kementerian Kehutanan enggan aktivitas publik mengganggu kondisi psikologis satwa di masa transisi.

“Terkait apakah warga masih bisa berkunjung setelah penyegelan, kami perlu melakukan evaluasi terlebih dahulu. Ada kekhawatiran dari para pengamat bahwa satwa mengalami stres. Oleh karena itu, penilaian kesehatan satwa sepenuhnya akan ditentukan oleh Direktur Jenderal. Setelah itu barulah kami melihat situasi lebih lanjut,” ungkap Farhan.

Farhan menegaskan Bandung Zoo akan tetap berfungsi sebagai kawasan taman margasatwa. Apalagi, area tersebut sudah menjadi ikon Kota Bandung yang tidak boleh diubah peruntukannya.

“Pesan dari Pak Gubernur adalah agar kawasan ini tetap diupayakan sebagai taman margasatwa, karena sudah menjadi ikon, bahkan di tingkat Jawa Barat. Kami akan menjaga amanah ini dari level pemerintah kota, provinsi, hingga pusat. Kami juga terbuka terhadap pengawasan serta aspirasi masyarakat,” tegasnya.

Skema baru kini tengah disiapkan untuk pengelolaan Bandung Zoo. Sebuah komite khusus akan ditunjuk untuk merumuskan mekanisme pengelolaan tersebut.

Komite itu nantinya bertugas merumuskan skema pengelolaan, termasuk menyeleksi lembaga konservasi yang akan menjadi calon pengelola. Meski detail skemanya masih digodok, kerja sama pengelolaan tersebut direncanakan akan berlangsung selama 10 tahun.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko menambahkan, saat ini terdapat 711 satwa di Bandung Zoo. Ratusan satwa tersebut merupakan milik negara yang statusnya dititipkan kepada YMT.

Mengenai pengelolaan ke depan, Kementerian Kehutanan akan mendampingi komite dalam memilih pengelola baru. Calon pengelola yang ditunjuk wajib memiliki fasilitas memadai, rekam jejak yang bersih, serta didukung tenaga ahli yang profesional.

“Formula terbaik akan dicari, termasuk soal perizinan. Lembaga konservasi yang dipilih harus profesional, memiliki rekam jejak yang baik, tenaga ahli yang memadai seperti dokter hewan dan animal keeper, serta kemampuan investasi dan rencana jangka panjang yang jelas,” katanya.

“Proses seleksi akan sangat menentukan. Kami akan memilih lembaga konservasi yang berkualitas dan kompeten, sehingga permasalahan serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Berakhirnya Status Tanggap Darurat Longsor di Cisarua

Sudah 14 hari berlalu sejak bencana longsor menerjang Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (24/1/2026).

Sebanyak 48 rumah rata dengan tanah akibat terjangan lumpur dan bebatuan yang meluncur dari Gunung Burangrang. Kemudian 80 warga dilaporkan jadi korban jiwa, serta ratusan lainnya diungsikan.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat langsung menetapkan status tanggap darurat bencana longsor sehingga komando penanganan bencana diambil alih pemerintah pusat. Kini, di hari keempat belas, Jumat (6/2/2026), status tanggap darurat resmi dicabut.

“Kami menyampaikan hasil evaluasi pelaksanaan operasi sejak awal dilaksanakan dalam status tanggap darurat, yang secara resmi berakhir pada hari ini, 6 Februari 2026, sesuai dengan keputusan Bupati Bandung Barat,” kata SAR Mission Coordinator (SMC), Ade Dian Permana, Jumat (6/2/2026).

Kendati masa tanggap darurat sudah dicabut, namun operasi pencarian terhadap korban tertimbun masih terus dilaksanakan dalam masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan dengan pola operasi SAR terbatas.

“Memasuki masa pascarehabilitasi dan rekonstruksi, Basarnas bersama unsur gabungan tetap hadir mendampingi proses yang berjalan. Apabila terdapat informasi atau indikasi baru (penemuan korban) yang disampaikan di lokasi, Basarnas akan terus menindaklanjuti terkait penemuan atau dugaan adanya korban,” kata Ade Dian.

Operasi pencarian telah dilaksanakan secara maksimal dengan dukungan lebih dari 3.100 personel gabungan, alat berat, ambulans, drone, serta unsur K9 yang dikerahkan secara terkoordinasi di seluruh sektor pencarian.

“Namun demikian, luas area pencarian yang kurang lebih mencapai 15,7 hektare, kondisi medan yang masih labil, serta dinamika cuaca menjadi tantangan utama dan berimplikasi pada keselamatan personel,” ucap Ade Dian.

Proses pencarian korban longsor di Cisarua Bandung Barat Foto: Whisnu Pradana

Hingga hari keempat belas, tim SAR gabungan telah menemukan dan mengevakuasi sebanyak 94 bodypack dari target 80 korban dalam daftar pencarian. Bodypack itu lalu diserahkan ke posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat untuk diidentifikasi.

“Berdasarkan rilis resmi DVI Polri tertanggal 6 Februari 2026 pukul 14.00 WIB, sebanyak 74 korban telah berhasil diidentifikasi dari 77 body pack, sementara sejumlah body pack lainnya masih dalam proses identifikasi lanjutan sesuai dengan prosedur forensik,” kata Ade Dian.

Dua Orang Tewas Usai Sigra Tabrak Fuso di Cisumdawu

Kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa kembali terjadi di Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Pada Selasa (3/2/2026) malam, dua orang dilaporkan tewas usai kendaraannya menabrak truk tronton Fuso.

Informasi dihimpun, kecelakaan yang terjadi di Kilometer 199, wilayah Kecamatan Congeang, Kabupaten Sumedang, ini melibatkan dua kendaraan yang diantaranya kendaraan Daihatsu Sigra dengan nopol B-2813-KOY serta truk tronton Fuso dengan nopol D-9320-AF.

Menurut keterangan Kanit Gakkum Satlantas Polres Sumedang Ipda Arief, untuk kronologi kejadian berawal dari kendaraan Daihatsu Sigra yang dikendarai oleh Yopi Yuga Insani ini tengah melintas di jalur Cirebon menurut Bandung.

Arief melanjutkan, sesampainya di TKP diduga sopir Sigra kurang konsentrasi dalam mengemudi hingga akhirnya menabrak bagian belakang dari truk Fuso yang dikendarai oleh Danu Sanjaya.

“Diduga pengemudi Kendaraan Daihatsu Sigra No. Pol B-2813-KOY tidak konsentrasi dalam mengemudi sehingga terjadi menabrak belakang Kendaraan Mitsubishi Truck Tronton Fuso No. Pol D-9320-AF yang sedang melaju di depannya atau melaju di lajur 1 (lajur paling kiri),” ujar Arief kepada, Rabu (4/2/2026).

Akibat kecelakaan ini, Arief mengungkapkan dua orang yang seluruhnya penumpang dari kendaraan Sigra meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara untuk sopir mengalami luka-luka.

“Kejadian tersebut mengakibatkan pengemudi Sigra mengalami luka-luka dan kedua penumpang atas nama Isnaeni, dan Asep Hasanudin meninggal dunia di TKP,” katanya.

“Ketiga korban dilarikan ke RS Cimalaka Sumedang serta kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas mengalami kerusakan,” pungkasnya.

Kecelakaan maut ini sendiri masih dalam penanganan dari pihak Gakkum Satlantas Polres Sumedang. Sekadar informasi, sebelumnya kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia juga terjadi di Tol Cisumdawu, pada Senin (26/1/2026) pekan kemarin. Kecelakaan itu terjadi di Kilometer 179 dan tiga orang dinyatakan meninggal dunia.

Dua Orang Tewas Tertimbun Usai Lakukan Ritual Cari Harta Karun

Dua orang tewas tertimbun reruntuhan tanah di lokasi pembangunan kolam renang di Jalan Terusan Sindang Barang, RT 003 RW 005, Kelurahan Antapani Kulon, Kecamatan Antapani, Kota Bandung.

Dua korban meninggal dunia yakni Muhammad Nizar Hafidhul atau MHN (25) dan Rika Yuliana atau RY (40). Sementara itu, korban selamat dan mengalami luka yakni Fitri Handayani atau FH (47).

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kota Bandung Soni Bakhtiyar mengatakan, korban berhasil dievakuasi Tim Rescue Disdamkarmatan Kota Bandung. Polrestabes Bandung juga menangani kejadian ini.

“Peristiwa bermula saat MNH menyelesaikan penggalian tanah sedalam kurang lebih dua meter yang direncanakan untuk dijadikan kolam renang,” ujar Sony, Kamis (5/2/2026).

Petugas melakukan evakuasi dua warga tertimbun tanah Foto: istimewa

Sony mengungkapkan, FH dan RY turut turun ke galian itu. Menurut keterangan Sony, keduanya akan melakukan ritual.

“Berdasarkan keterangan di lapangan, FH dan RY kemudian turun ke dasar galian, yang diduga hendak melakukan ritual tertentu atas permintaan pihak keluarga,” ungkapnya.

Tak lama berselang, terjadi kegagalan struktur pada lantai bangunan di sisi galian. Tembok bekas dudukan mesin huller padi dengan volume 1.125 m³ dan bobot mencapai 1.125 kg runtuh seketika karena kondisi pondasi yang tidak stabil setelah tanah di bawahnya digali.

“Reruntuhan material beton tersebut jatuh langsung ke dalam lubang dan menimpa MNH dan RY. Di saat bersamaan, material lantai di sisi lain juga ikut roboh dan mengenai FH, namun FH berhasil menyelamatkan diri dari reruntuhan tersebut,” ungkapnya.

Dalam kejadian ini, petugas berhasil mengangkat balok beton di posisi yang tidak stabil dan membahayakan. Penanganan ini dilakukan hampir selama tiga jam.

Kapolsek Antapani Kompol Yusuf Tojiri membenarkan kejadian itu. Menurut Yusuf, ritual yang dilakukan korban merupakan ritual untuk mencari harta karun.

Menurutnya, sebulan lalu FH (korban selamat) memberikan bimbingan untuk melakukan ritual mencari harta karun. Korban diminta untuk menggali beberapa titik di dekat lokasi penggilingan padi.

“FH mengatakan bahwa di sekitar lokasi tersebut ada harta karun satu peti. Saat masuk ke dalam (galian), dua korban terpeleset dan tertimpa tanah,” katanya.

Polisi akan melakukan pemeriksaan terhadap perempuan berinisial FH tersebut. Polisi juga masih melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengetahui ada atau tidaknya tindak pidana yang menyebabkan kedua korban meninggal dunia.

“Masih dalam pemeriksaan dan penyelidikan,” pungkasnya.

Dua Orang Terluka Diterkam Macan Tutul di Pacet Bandung

Pagi yang tenang di Kampung/Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung tiba-tiba berubah mencekam. Seekor macan tutul masuk ke permukiman warga hingga mengakibatkan dua orang mengalami luka-luka.

Kemunculan macan tutul itu tersebar dalam video amatir warga yang dibagikan di media sosial. Hewan liar dengan nama latin panthera pardus awalnya dilaporkan naik ke tembok rumah warga hingga melarikan diri ke arah hutan atau lahan kosong, namun versi lain menyebutkan pelariannya hingga ke area pasar.

Setelah menerima laporan, petugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar langsung turun ke lokasi kejadian. Namun masalahnya, macan tutul itu telah melukai dua orang meskipun untungnya tidak begitu fatal.

Kemunculan macan tutul ini terkonfirmasi Kepala Desa Maruyung Apen Supendi. Hewan liar itu masuk ke area padat penduduk, lalu ada warga yang sempat mencoba menangkap namun langsung diterkam.

“Iya ada dua warga sempat terluka, luka ringan dan sudah dibawa ke puskesmas,” katanya, Kamis (5/2/2026).

Sampai akhirnya, macan tutul itu berhasil ditangkap petugas gabungan dan warga. Hewan itu lalu dievakuasi sementara ke Polsek Pacet untuk mendapat penanganan dari tim dokter BKSDA Jabar.

“Setelah kita amankan di sini, baru dari pihak BKSDA datang dan alhamdulillah bisa ditangani untuk prosesnya lebih lanjut ke depan,” ujar Kapolsek Pacet AKP Asep Mulia.

Sementara itu, Asep belum dapat mengkonfirmasi soal dua warga yang mengalami luka-luka. Polisi masih mencari informasi untuk kepastiannya. “(korban luka) untuk sampai saat ini belum ada laporan, namun demikian akan kita cari informasi,” tuturnya.

Macan tutul mengaum saat hendak dievakuasi warga di Pacet, Kabupaten Bandung Foto: Istimewa/ dok warga Pacet

Rencananya, macan tutul yang telah diamankan itu akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan rehabilitasi. Hal tersebut dilakukan sambil melakukan kajian untuk rencana dilepasliarkan kembali.

“Kami BKSDA fokus kepada kondisi macannya agar kita tangani dulu kesehatannya, kemudian kita lihat apakah cukup memadai untuk direhabilitasi dan kemudian dilepasliarkan kembali,” ujar Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V BBKSDA Jawa Barat, Vitriana Yulalita.

BBKSDA Jabar belum bisa memastikan asal macan tutul tersebut dari mana asalnya. Namun berdasarkan penuturan warga, macan tersebut muncul tidak jauh dari lokasi yang terdapat habitat macan tutul.

“Saya belum bisa menyimpulkan ya. Hanya tadi cerita dari masyarakat yang menangani, yang melihat langsung. Ini kan ditemukan di lokasi yang tidak biasa, begitu ya. Karena di sini juga sepertinya dekat ya dengan kawasan hutan, meskipun itu apakah hutan lindung ataupun hutan konservasi, saya juga tidak bisa menentukan ataupun menjamin dia berasal dari mana begitu,” bebernya.

Rencananya, macan tutul tersebut akan dibawa ke Lembaga Konservasi di Cikembulan, Kabupaten Garut. Setelah itu hewan dilindungi tersebut akan dilakukan observasi untuk nantinya akan dilepasliarkan.

“Jadi, kita akan ada kajian khusus ya untuk habitat yang memungkinkan untuk pelepasliaran kembali. Itu pun akan dilihat juga kondisi macan tutulnya. Tapi untuk saat ini kita akan tangani untuk dibawa ke Lembaga Konservasi Cikembulan, di Garut,” pungkasnya.